Mengulas ‘The Diary: A Journey to Become a Moslem Doctor’, Perjalanan Alumni FK UIN Jakarta Menjadi Dokter Muslim Profesional
Mengulas ‘The Diary: A Journey to Become a Moslem Doctor’, Perjalanan Alumni FK UIN Jakarta Menjadi Dokter Muslim Profesional

Berita FK UIN Online - Alumni Fakultas Kedokteran (FK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerbitkan buku ‘The Diary: A Journey To Become a Moslem Doctor’. Buku yang menceritakan mengenai kisah nyata dari angkatan pertama kedokteran UIN Jakarta sebagai dokter muslim sekaligus untuk refleksi hidup dan perjuangan kemanusiaan menerbitkan cetakan kedua pada 11 Januari 2011 dalam rangka memperingati wisuda perdana mahasiswa kedokteran UIN Jakarta.

Diterbitkan secara independen oleh Ikatan Dokter Muslim Alumni UIN Jakarta yang didukung oleh Masjid Taajul Ilmi FK UIN Jakarta, buku ini diterbitkan dengan menggaet kisah-kisah dokter muslim yang berjuang sebagai dokter dengan mengintegrasikan nilai keIslaman, keIlmuan dan keIndonesiaan secara profesional. Dengan menceritakan suka dan duka selama bekerja, buku ini menunjukkan bahwa untuk mencapai profesionalisme dokter muslim tidak semudah mempelajari modul integrasi dokter muslim, empati dan bioetik selama satu dua minggu.

‘The Diary: A Journey To Become a Moslem Doctor’ ditulis oleh 27 penulis yakni Arum Widi Sarastuti, Awab Zakie Habibie, Dadan Dani H, Donny Alpha Edison, Haritsah, Ika Handayani S, Ira Susanti Haryoso, Kholidatul Husna, Moh. Edi Sutanto, Nita Nuranisa, Rizki Rizal, Syafiq Hasan Futhuri, Syahdi Farqani, Ana Raudah Al Jannah, Balgiz Al Zagladi, Desra Novianto, Eka Evia R. Agustina, Husna Lathiifa, Ika Triayunika, Jajang Marjaya, Laeli Puspita Sari, Mustika Anggiane P, Ratih Ayu Kusumasari, Sakinah Ginna R, Suci Sri Rahayu, Umu Istiqomah, dan Yasin dan didukung oleh editor diantaranya, Ahmad Azwar Habibi, Ana Raudah, Arum Wdi Sarastuti, Awab Zakie Habibie, Eka Evia R. Agustina, Sakinah Ginna R.

Pada bagian 1 dalam buku ini menceritakan tentang cerita dokter ‘Yang Berkesan dari Modul Dokter Muslim dan Empati’, bagian 2 ‘Haruskah Aku Meninggalkan yang Kedua’, Bagian 3 ‘Tampaknya Mudah, Ternyata Sulit’, Bagian 4 ‘Hal Kecil yang Membesarkan’ dan ‘Kisah Inspiratif’, Bagian 5 ‘Dari Kami, oleh Kami, untuk Kami. 

Sivitas akademika FK UIN Jakarta menganut konsep kriteria dokter Muslim ideal yang menghubungkan lima standar kompetensi global World Health Organization (WHO) yakni, Seven Star of Moslem Doctor; Good Communication; Care Provider; Decision Maker; Community Leader; Manager; Iman; Taqwa.

Pembuktian integrasi keIslaman oleh dokter Muslim FK UIN Jakarta didokumentasikan pada cerita di buku ini dengan naratif. Salah satu cerita yang diceritakan oleh Dekan FK UIN Jakarta, Dr. dr. Achmad Zaki, M.Epid., Sp.OT., FICS., yakni pengalaman seorang dokter dalam menerapkan pembelajaran dari modul keIslaman dengan menuntun pasien yang berada dalam kondisi sakaratul maut untuk mengucapkan kalimat talqin, sebagai bentuk pendampingan spiritual sekaligus mewakili keluarga pasien.

Kutip ‘The Diary: A Journey To Become a Moslem Doctor

“Saya pun segera meminta keluarga pasien untuk mentalqinkan (menuntun seseorang untuk mengucap "Laa ilaha illallah" saat menghadapi sakaratul maut). Namun tidak satu pun dari keluarga yang bisa mantalqinkan. Mereka semua mengatakan tidak pernah dan tidak bisa mentalqin. Melihat keadaan tersebut, saya pun teringat salah satu pelajaran modul dokter muslim agar mentalqin pasien yang sedang menghadapi sakaratul maut.

Keadaan ini merupakan pengalaman saya yang pertama dalam mentalqin. Ternyata mentalqinkan seseorang tidak semudah yang saya kira. Dengan tangan kiri, saya memegang kepalanya dan saya membisikan kalimat "Laa ilaha illallah" di telinga kanannya. Saya pun melakukannya berulang kali dalam waktu sekitar 5 menit hingga pasien tersebut dinyatakan telah wafat. Pada saat saya mentalqinkan tersebut, saya tidak dapat mendengar suara pasien mengucap "Laa ilaha illallah". Namun saya melihat setitik air mata yang keluar dari mata pasien. Suasana pada saat itu sangat mengharukan. berharap agar pasien tersebut tetap mengucap "Laa ilaha illallah" di dalam hatinya, dan meninggal dalam keadaan husnul khotimah. (Elli)”

Buku ini menceritakan kisah dokter yang cukup menarik dengan mengintegrasikan ilmu keIslaman seperti cerita dokter yang mengedepankan sholat tepat waktu di tengah kesibukan jadwal operasi bedah dan lain halnya, Namun, terdapat kekurangan pada buku ini yakni, ejaan yang terkadang masih ada kekeliruan dalam pengetikan dan margin yang tidak konsisten.

Buku ini direkomendasikan kepada seluruh pembaca terkhusus dengan pembaca yang memiliki peminatan atau tujuan kepada ilmu kedokteran.

Buku ini tersedia di Perpustakaan FK UIN Jakarta dan diperjualbelikan dengan sistem pre-order.

(MA/NIS)